Tuesday, January 13, 2015

Kill Them with Your Kindness Reviewed by ehcrazy moment on Tuesday, January 13, 2015 Rating: 5

Kill Them with Your Kindness

Mungkin dalam kehidupan sehari-hari kita, kita selalu berurusan dengan orang yang selalu menyakitkan hati. Walaupun kita telah mencoba sedaya-upaya untuk bersikap baik, tetapi mereka malah membalas dengan cara yang sebaliknya. Dalam percakapan dan semua cara komunikasi kita dengan mereka, kita telah secara nyata dan jelas mencoba untuk menyelesaikan sesuatu masalah secara baik dan damai. Tetapi keadaan tetap saja sebaliknya. Kebaikan yang kita hulurkan tidak berkesan.
 
Pernahkah kamu  mengalami situasi seperti ini?

Saya mengerti, tidak mudah bagi kita untuk menerima keadaan seperti ini. Seolah-olah kebaikan yang kita hulurkan tidak dihargai dan tidak ada nilainya.
Mungkin kita pernah terpaksa berpura-pura untuk kelihatan baik pada luaran terhadap seseorang, tapi dalam waktu yang sama kita mencaci maki dalam hati.
Walaupun kita tersenyum, membuat gestur yang mesra dan berbicara dengan sopan, tapi dalam waktu yang sama dalam hati kita sebenarnya “membunuh” mereka dengan kemarahan. Like that famous saying on 9gag: “I may look calm. But in my head, I’ve killed you 5 times”.
Kita tidak sadar sebenarnya kita yang egois! Sebenarnya kita belum cukup baik, belum cukup ikhlas. Tetapi kenapa malah kita yang egois, sedangkan merekalah yang jelas-jelas lebih egois dari kita?

Dengan segala kekurangan dan kedangkalan ilmu, ijinkan saya untuk sedikit sharing.

Sebenarnya kita egois karena kita manginginkan sesuatu. Kita ingin situasi itu diselesaikan mengikut cara kita. Selalu kita merasakan orang lain salah dan kita adalah betul. Kita merasakan apabila kita sudah memberi dengan kebaikan, kita juga harus dibalas dengan kebaikan. Sebenarnya kita salah. Kita tidak sadar bahawa pada umumnya manusia itu tidak pandai berterima kasih. Kepada Allah yang Maha Memberi pun manusia tidak pandai bersyukur dan berterima kasih, apalagi kepada kita sesama makhluk yang terbatas. 

Oleh karena itu sebarkanlah kebaikan kita yang seikhlas-ikhlasnya, tanpa perlu kita terpaksa berpura-pura baik dengan orang yang kita tidak suka. Memang bukan tugas kita untuk menjaga hati setiap orang, tetapi kita sendiri harus senantiasa berbuat baik dengan siapapun, seikhlas hati. Percayalah, dimulai dari ini, kita akan merasakan lebih banyak kebaikan yang akan datang kepada kita apabila kita menetapkan niat untuk menyebarkan kebaikan secara ikhlas.

Orang yang kita beri kebaikan, mungkin tidak akan membalas kebaikan kita. Tetapi insyaAllah, Allah akan menggerakkan hati orang lain yang tidak pernah merasa kebaikan kita untuk membalas kebaikan kita tadi. Walaupun mungkin ia tidak datang dari orang yang ego kita inginkan, tetapi pasti banyak lagi kebaikan dari orang atau hal lain yang akan dihantarkan oleh Allah kepada kita. Mungkin dari segi jodoh yang baik – isteri atau suami yang sholeh dan setia, anak yang baik, pintar dan sholeh, kelebihan dari segi harta, dan kebaikan-kebaikan lain yang melapangkan serta membahagiakan hati.

Tapi, apakah menjadi orang yang baik serta ikhlas harus rela selalu ditindas? 
Well, let’s not put it that way. Kita bukan mau ditindas, tetapi memilih jalan untuk bersabar. Sabar itu indah. Beautiful.
No suffering that afflicts us is beyond our capability.

Allah maha melihat, oleh itu anggap saja segala sesuatu yang kita lakukan untuk menjaga hubungan sesama manusia itu sebagai satu ibadah untuk mencapai keredhaan Allah. Yakinlah, what you give, you get back. Itu sunatullah dalam hubungan sesama manusia. Kebaikan yang kita buat akan kembali kepada kita, insyaAllah.

Cuba kita renungkan kembali sifat sabar Rasulullah. Beliau pernah dilempari kotoran oleh Yahudi. Tetapi ketika Yahudi tersebut sakit beliau malah menjenguknya tanda ada rasa dendam atau amarah sedikitpun.
Kita hanya perlu bersabar, dan melatih hati kita untuk benar-benar ikhlas. Ikhlas dan sabar itu adalah kunci kekuatan hati. Memang tidak mudah untuk melakukannya, tetapi kita mampu melakukannya. Karena hanya mereka yang mempunyai kekuatan hatilah yang senantiasa dapat menundukkan rasa egois yang muncul dalam diri.
Hanya apabila kita yakin dengan balasan-balasan yang Allah janjikan, insyaaAllah kita kita akan bahagia dunia akhirat.

InsyaAllah, keikhlasan kita dalam menyebarkan kebaikan akan dibalas oleh Allah, cuma kita jangan mengharapkan terima kasih dari manusia atas kebaikan yang kita buat kepada mereka. Kelapangan hati, ketenangan jiwa, kesegaran roh, akan hadir kepada kita insyaAllah.
Jadikan Ini sebagai Ladang peningkatan diri kita. Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita. Jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai kesempatan untuk menyucikan jiwa, dengan memaafkan dan membalasnya dengan kebaikan. Belajarlah melupakan setiap kesalahan orang terhadap kita. Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Kerena semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, maka akan sering kita sakit hati.

0 Leave a comment: