Tuesday, May 19, 2015

PERIHAL RINDU Reviewed by ehcrazy moment on Tuesday, May 19, 2015 Rating: 5

PERIHAL RINDU

Untuk sekadar bersolek, aku ingin kamu yang terbaik untukku sebagai wanitaku.
Dimana ku letakkan kau pada akal ku dan yang sedang aku pegang itu bernama rindu. Di dalam pesan yang kuat ini, terdapat riuh di kepala tentang rindu yang tak berkesudahan. Kerinduan ialah hal yang datang tanpa mengetuk, tak bisa kuusir ataupun kulawan. Kau paling tahu, sebab itu karenamu.

Aku rindukan senyummu, tawamu, sorot kedua matamu. Kurindukan semua tentangmu. Lekaslah, lekas membuat temu dan lunaskah hutang-piutang rindu ini.
Aku tahu rindu itu celaka kewujudannya kerana ia tak lain tak bukan hanyalah mendatangkan kesakitan pada hati, bukannya kebahagiaan. Karena rindu bisa menyiksa lebih kejam daripada pembegal.

Namun ketika rindu tak tertahankan mungkin hanya lewat doa caraku memelukmu dari jauh.
“Sebab sebaik-baiknya rindu adalah doa dan sajadah ini terlalu luas bagi cemas-harapmu.”
Bila rindu ini bersanding dengan do'a, semua yang jauh jadi terasa dekat. Dalam degup kencang menyatu derasnya darah terasa didenyut nadiku. Sembunyikan aku dalam teduh pelukanmu, sembunyikan. Setidaknya hingga jarum jam di tanganmu berhenti berdetak.

Engkau yang membangunkan sajak puisi, di kedalaman matamu pangkal semua diksi, mengajak pikir dan hatiku berfantasi; aku rindu, sampai aku memeluk pagi.
Aku mencoba membacamu; serakan aksara di lembaran takdir. Buku tentang cintakah ini, hingga air mata terbata mengejanya.
Ya, terkadang kita hanya selalu mengeja, huruf demi huruf jadi kata. Sementara rindu, tak lebih dari buku yang tak pernah terbaca. Kau pun tahu rindu tak mengenal kata bosan, ia selalu datang disaat aku teringat akan dirimu. Rindu itu lingkaran, tak berujung.

Terkadang ingin kupinjam buku yang ditulis Tuhan, agar kutahu apakah akhir kisahku berujung manis dan indah denganmu? Karena buku yang ku punya lembar demi lembarnya telah ku isi doa, entah itu luka ataupun tawa, aku amini kita bisa tetap bersama. Tapi lembar-lembar buku ini tak lagi cukup untuk menulis tentangmu. Esok berikan aku tembok kosong untuk melukis parasmu.
Kelak jika aku pergi, berbanggalah sambil mempelajari lagi semua puisiku tentangmu



>)

0 Leave a comment: