Thursday, June 25, 2015

Ribuan Doa Reviewed by ehcrazy moment on Thursday, June 25, 2015 Rating: 5

Ribuan Doa

Hidup adalah pelajaran berlari tanpa henti. Kadang berhenti untuk mengatur hati, lalu berlari lagi lagi dan lagi.

Namun,
Kini, Tuhan membebaskan sarafku yang dulu beku, lalu Dia memberikanku nafas rindu yang baru.
Kubiarkan saja rindu itu riang berceloteh tentangmu, dan aku suka bagian itu.

Awal yang biasa saja, kau hanya sekedar wanita biasa. Lama-lama setelah tanpa sengaja aku mendalami tentangmu, engkaulah yang sengaja atau tidak dapat menentukan cuaca dihidupku kini.

"Jika ada yang sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta
Aku cukup menunjukkan lukisan matamu, sejenak saja."

Kini,
Saat senja duduk terisak bersimpuh, berpendar merapal doa ampuh, menanti maghrib nan rapuh, saat dimana semua rindu berkumpul utuh.
Aku tersandar didinding kecil didasar hati.
Bila saja rindu adalah api, bakar aku sampai hati membara, sampai gelisah itu hangus karena abunya akan menghidupkan rindu itu lagi lagi dan lagi.

Aku jatuh cinta pada puisi. Bukan sebab setiap lekuk dipeluk keindahan diksi. Tetapi puisi dapat menyaji isak sepi, tentang keindahan dan hati hakiki.
Kelak, akan ku suguhkan kepadamu secangkir sajak yang kuramu dari butir-butir rindu.

Tuhan, beri aku alamat doa dan semoga.
Jiwaku lapar dahaga, Ya Robbi Izzati, ruhku terpecah diluar sajadah.
Dalam doa, namanya ada lewat doa, bersua dengan doa, berjuang mengusahakan bahagia.
Ku doakan kesehatannya, sebab masih banyak amsal yang belum kita sajakkan dan awal yang belum kita lanjutkan.

Cinta, namamu adalah doa; puisi yang paling mengundang makna bermacam namun satu.
Tapi, ketika aku kemustahilan baginya. Maka biarkan aku tetap mendoakannya. Sebab tak ada doa yang sia-sia.

"Aku meminta ribuan doa, sebab aku tak tahu kapan doa itu terkabul dan aku tak ingin menyesal karena terlambat berdoa."

>)

0 Leave a comment: