Wednesday, May 27, 2015

Kamu, Terbitnya Doa-doa Baik Reviewed by ehcrazy moment on Wednesday, May 27, 2015 Rating: 5

Kamu, Terbitnya Doa-doa Baik



Taman yang basah, dimana hujan tak pernah lengah. Sekadar mengecup hati yang resah namun menyenangkan. Ketika menatap hujan, ada kamu di sela rinai mandi hujan. Kamu, seuntai sejuk bagi mataku yang kasmaran.
Butuh lebih dari sekadar lari untuk menghindar dari hujan pesonamu. Sebab aku tak ingin basah oleh waktu yang semu.

Dan ketika di antara pagi dan ramah cahaya mentari, kaulah harapan yang lari, dan akulah doa yang mengejarmu tak kenal henti. “Mengejar kesibukanmu, mendoakan kebahagiaanmu.”
Aku selalu berbincang pada pagi, tentang hangatnya yang menculik setangkai surga di wajahmu di antara tawa yang berseri. Ya, melihat senyummu adalah sebaik cara rindu menemui bahagia.
Mungkin, kau enggan membuka hatimu, dan telah lama menguncinya rapat-rapat dan sialnya aku terperangkap di dalamnya.
Tuhan memang Maha Asik, yang menghadirkan pagi sebagai bahasa semesta, untuk mencintaimu lebih baik lagi.

Kutulis sepotong puisi di sepasang matamu, agar segala tentangku bergembira di tatapmu. Akupun jatuh cinta dengan sepasang matamu yang telah melahirkan puisi di dadaku.
Tubuhmu bening embun, dan aku musafir lugu selalu dahaga merengkuhmu. Engkau; cahaya yang mengilau di tamanku. Selaksa bisyarah tentang asa, binarmu ialah bahagiaku.
Dari matamu aku paham, cinta lebih berbahasa dari kata dan lebih menyala dari terang cahaya.
Maafkan aku, jika tak mengerti bahasa matamu, tak bisa membedakan kau bersedih atau bahagia, yang kupahami hanyalah keindahannya. Dan bodohnya aku, hingga pengetahuanku begitu sempit, yang kutahu tentang kota ini hanya tempat berdiamnya seorang wanita baik, cantik, hingga tak mampu ku tafsir dalam bait.

Kamu, terbitnya doa-doa baik.



>)

Tuesday, May 19, 2015

PERIHAL RINDU Reviewed by ehcrazy moment on Tuesday, May 19, 2015 Rating: 5

PERIHAL RINDU

Untuk sekadar bersolek, aku ingin kamu yang terbaik untukku sebagai wanitaku.
Dimana ku letakkan kau pada akal ku dan yang sedang aku pegang itu bernama rindu. Di dalam pesan yang kuat ini, terdapat riuh di kepala tentang rindu yang tak berkesudahan. Kerinduan ialah hal yang datang tanpa mengetuk, tak bisa kuusir ataupun kulawan. Kau paling tahu, sebab itu karenamu.

Aku rindukan senyummu, tawamu, sorot kedua matamu. Kurindukan semua tentangmu. Lekaslah, lekas membuat temu dan lunaskah hutang-piutang rindu ini.
Aku tahu rindu itu celaka kewujudannya kerana ia tak lain tak bukan hanyalah mendatangkan kesakitan pada hati, bukannya kebahagiaan. Karena rindu bisa menyiksa lebih kejam daripada pembegal.

Namun ketika rindu tak tertahankan mungkin hanya lewat doa caraku memelukmu dari jauh.
“Sebab sebaik-baiknya rindu adalah doa dan sajadah ini terlalu luas bagi cemas-harapmu.”
Bila rindu ini bersanding dengan do'a, semua yang jauh jadi terasa dekat. Dalam degup kencang menyatu derasnya darah terasa didenyut nadiku. Sembunyikan aku dalam teduh pelukanmu, sembunyikan. Setidaknya hingga jarum jam di tanganmu berhenti berdetak.

Engkau yang membangunkan sajak puisi, di kedalaman matamu pangkal semua diksi, mengajak pikir dan hatiku berfantasi; aku rindu, sampai aku memeluk pagi.
Aku mencoba membacamu; serakan aksara di lembaran takdir. Buku tentang cintakah ini, hingga air mata terbata mengejanya.
Ya, terkadang kita hanya selalu mengeja, huruf demi huruf jadi kata. Sementara rindu, tak lebih dari buku yang tak pernah terbaca. Kau pun tahu rindu tak mengenal kata bosan, ia selalu datang disaat aku teringat akan dirimu. Rindu itu lingkaran, tak berujung.

Terkadang ingin kupinjam buku yang ditulis Tuhan, agar kutahu apakah akhir kisahku berujung manis dan indah denganmu? Karena buku yang ku punya lembar demi lembarnya telah ku isi doa, entah itu luka ataupun tawa, aku amini kita bisa tetap bersama. Tapi lembar-lembar buku ini tak lagi cukup untuk menulis tentangmu. Esok berikan aku tembok kosong untuk melukis parasmu.
Kelak jika aku pergi, berbanggalah sambil mempelajari lagi semua puisiku tentangmu



>)

Saturday, May 16, 2015

Beritahu Aku Bahwa Ini Nyata Reviewed by ehcrazy moment on Saturday, May 16, 2015 Rating: 5

Beritahu Aku Bahwa Ini Nyata

Terlalu indah hingga ku tak bisa berhenti memandangmu.
Ingin ku dekat lalu ku dekap, layaknya surga yang ingin ku sentuh.
Memandangmu membuat darahku mengalir lembut dan bergairah.
Maafkan caraku menatapmu, sungguh aku tak bisa berhenti untuk itu.

Jika boleh, ijinkan aku mencarimu melalui mata cantik itu.
Yang membuatku bersemangat dan haus akan keberadaanmu.
Setelah aku menemukan dirimu, tinggallah.
Dan biarkan aku mencintaimu, biarkan aku mencintaimu. 

Lalu, beritahu aku bahwa itu nyata.



>)
Tinggallah Disini Reviewed by ehcrazy moment on Saturday, May 16, 2015 Rating: 5

Tinggallah Disini



Ketika gelap jatuh,
Ketika aku jatuh,
Ketika aku takut,
Dan ketika jiwa mulai menghilang.
Entah sengaja atau tidak, kau datang menahanku.

Ketika kekuatanku hilang,
Ketika apiku mulai padam,
Ketika hati ini melanggar,
Dan ketika hidup seakan mulai menyelinap pergi.
Entah sengaja atau tidak, kau mampu membuatku aman.

Jika boleh ku meminta, tinggallah disini.
Aku membutuhkanmu.



>)