Saturday, June 27, 2015

Sabtu Reviewed by ehcrazy moment on Saturday, June 27, 2015 Rating: 5

Sabtu

Sabtu, aku berlindung dari godaan rindu yang memburu. Aku takut.
Karena masih saja mentari ini merayu ku memberikan hangat yang pas, tak jua ku doakan dirimu tuk beri hangat yang pantas. Itu semua terjadi begitu saja.

Tapi,
Acapkali ku bertandang ke rumahmu yang sunyi, pintumu senantiasa terkunci.
Segera kucari hingga ku berjelaga ditepian sunyi yang mungkin membantu takdir untuk terungkap.

Ketika cemas memenjara hati; kamus pikir tak berisi, dan huruf-huruf yang kueja enggan--mungkin penaku habis tinta, mungkin.
Tapi itu tak lama, karena pena ini mencurahkan tinta pada tepi tubuhmu, sebab adil itu; membiarkan puisi menagih rindu.

Nyonya, bisakah kau baca rindu ini. Rindu yang selalu tertuju padamu.
Bacalah dengan hati, semua puisi dan rindu yang ada adalah ungkapan sebuah jiwa,
Ia tercipta karena engkau juga, cinta.

Jika rinduku tak terbaca.
Mungkin jika kau lelah dan ingin berlalu pergi, itu salahku menulis rindu dengan braille, karena aku telah buta oleh cinta.

Dalam cuaca yang tanda tanya, wajahmu tak pernah selesai kubaca. Selalu menemani lalu lintas sepi: hidupku.
"Kamu; puisi yang tak pernah selesai kubaca karena setiap hurufnya membuatku semakin jatuh cinta."
Semacam perihal embun yang tak lupa bersyukur pada mentari, perihal rinduku yang tak lekas berhenti.

Sungguh,
Aku ingin bersarang di nafasmu.

Seumur hidup, baru kali ini tak ada lelah saat kuharus hidup dalam uniknya kisah ini. Sebab cintamu ialah doa yang terpintal indah.

Jika ku pelihara sepi, maka kaulah waktu.
Bersamamu, memeluk hening, mencumbu pilu.
"Bersamamu; waktu tunduk berpihak. Menjelma bara yang menghangatkan dan mengabadikan, pelukan."

Kebersamaan,
Selalu kumohonkan,
Mendampingimu, melakoni rumitnya kehidupan sampai ke depan pintu gerbang kemenangan.

>)

Thursday, June 25, 2015

Ribuan Doa Reviewed by ehcrazy moment on Thursday, June 25, 2015 Rating: 5

Ribuan Doa

Hidup adalah pelajaran berlari tanpa henti. Kadang berhenti untuk mengatur hati, lalu berlari lagi lagi dan lagi.

Namun,
Kini, Tuhan membebaskan sarafku yang dulu beku, lalu Dia memberikanku nafas rindu yang baru.
Kubiarkan saja rindu itu riang berceloteh tentangmu, dan aku suka bagian itu.

Awal yang biasa saja, kau hanya sekedar wanita biasa. Lama-lama setelah tanpa sengaja aku mendalami tentangmu, engkaulah yang sengaja atau tidak dapat menentukan cuaca dihidupku kini.

"Jika ada yang sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta
Aku cukup menunjukkan lukisan matamu, sejenak saja."

Kini,
Saat senja duduk terisak bersimpuh, berpendar merapal doa ampuh, menanti maghrib nan rapuh, saat dimana semua rindu berkumpul utuh.
Aku tersandar didinding kecil didasar hati.
Bila saja rindu adalah api, bakar aku sampai hati membara, sampai gelisah itu hangus karena abunya akan menghidupkan rindu itu lagi lagi dan lagi.

Aku jatuh cinta pada puisi. Bukan sebab setiap lekuk dipeluk keindahan diksi. Tetapi puisi dapat menyaji isak sepi, tentang keindahan dan hati hakiki.
Kelak, akan ku suguhkan kepadamu secangkir sajak yang kuramu dari butir-butir rindu.

Tuhan, beri aku alamat doa dan semoga.
Jiwaku lapar dahaga, Ya Robbi Izzati, ruhku terpecah diluar sajadah.
Dalam doa, namanya ada lewat doa, bersua dengan doa, berjuang mengusahakan bahagia.
Ku doakan kesehatannya, sebab masih banyak amsal yang belum kita sajakkan dan awal yang belum kita lanjutkan.

Cinta, namamu adalah doa; puisi yang paling mengundang makna bermacam namun satu.
Tapi, ketika aku kemustahilan baginya. Maka biarkan aku tetap mendoakannya. Sebab tak ada doa yang sia-sia.

"Aku meminta ribuan doa, sebab aku tak tahu kapan doa itu terkabul dan aku tak ingin menyesal karena terlambat berdoa."

>)

Saturday, June 20, 2015

Bahagia Reviewed by ehcrazy moment on Saturday, June 20, 2015 Rating: 5

Bahagia

Ketika senja mulai datang
Angin malampun menggigilkan badan
Kau datang membawa kehangatan
Menyelimutiku penuh kenyamanan

Kau coba rasuki setiap ruang hati
Menyelusuri setiap dindingnya
Kau bawaku terbang melayang jauh
Berharap kau tak hempaskanku jatuh

Aku cinta
Aku ingin
Bersamamu, denganmu, kurasakan hidup
Bersamamu, denganmu, aku bahagia

>)

Thursday, June 4, 2015

Kamu Adalah Doa Reviewed by ehcrazy moment on Thursday, June 04, 2015 Rating: 5

Kamu Adalah Doa



Mungkin alasan mengapa Tuhan menciptakan senja, ialah untuk pulang, meski beberapa orang tak pernah menemukan rumah.
Dulu telah kupinta segala maaf; tak mau bayangnya menjelma, beranak-pinak hanya menjadi angan khilaf. Dan semua itu nyata akan hal yang kupinta.
Begitu aku yang lama tersesat dalam reruntuhan rumah yang kupikir aman.

Semalam puisiku bergantung di bulan, cahayanya berpendar pada aksara penuh cinta.
Aku memberanikan diri membuka kembali hati untuk mencintai, setelah luka-luka kusemayamkan di dalam puisi yang lalu.
Hingga dalam diam, sekuncup pagi mengingatkan tentang pertemuan. Saat di mana segala asa yang dingin mulai dihangatkan.
Misterimu yang buatku takjub, lembut tutur bahasa dalam ke dalaman makna, penuh teka-teki cerita labirin rahasia.
Ya, itu kamu. Kamulah persetubuhan cuaca dan musim yang mengirim gigil hingga hatiku menceracaui hening namun terasa hangat.
Aku melambai pada angin, mengecup udara, bilang aku gila. Tapi di hati ini, kau ada. Dan kuharap kita bersama, mentertawakan dunia.

Mencoba mematikan segala ingatan tentang pertemuan itu, yang kutakut semu.
Tapi aku tak sanggup, kau telah menari melenggang riang dalam riuh gaduh rindu yang terbenam dalam.
Kini aku gila atas embun yang menjalari bibirmu. Ia menghilangkan dahagaku dengan sejuk, dengan rasa yang memabukkan.
Rasanya cukup jauh dari mabuk arak. Aku tak bermimpi. Entahlah, aku sedang jatuh cinta.

Dan di pagi ini, wajahmu tergambar di sela-sela buku elektronikku, sedang suaramu jatuh samar mengaduhkan rindu.
Kau seperti  warna jingga pada pelangi. Aku  beku, lebam membiru, merindukanmu di malamku. Merindumu seperti tak ada habisnya, selalu saja peri nestapa menari di dalam kepalaku.
Cinta memang penuh kebaikan, di masa depan, kau milikku atau bukan, tetap kuabadikan sebagai kebahagiaan. Karena mimpiku sederhana, hanya ingin namaku tercatat di belakang namamu.
Menarilah pagi menarilah, ranting berdenting kering, dedaun berderau leting, dan embun pun berdendang bening.

“Kamu adalah doa; kunci kebahagiaan yang selalu kubawa saat pagi memulai hari.”
Dan dalam doaku ada aksaranya kuambil dari senyummu dan juga seluruhmu.


>)

Wednesday, June 3, 2015

Tengah Malam Reviewed by ehcrazy moment on Wednesday, June 03, 2015 Rating: 5

Tengah Malam

Terhimpit diantara hal yang ku suka dan benci
Dimana aku menyukai temu dan membenci rindu
Sekejap tertidur di ujung senja lalu terbangun di tengah gelap
Sesak menggelagap, tenggelam ku dalam benci
Ingin merengkuh bayang di dinding untuk melepas hal yang ku benci
Memeluknya erat dengan sangat penuh kebencian

Menuju pagi yang semakin dingin, rasa benci itu semakin kuat
Semakin ku menolak, semakin bencilah sangat
Mencoba mengalah dengan baringku di atas alas
Menghela nafas penuh harap cemas

"Sadarlah, ini hanyalah permainan rindu."

>)

Tuesday, June 2, 2015

Sore Reviewed by ehcrazy moment on Tuesday, June 02, 2015 Rating: 5

Sore

Sore itu berdiri sendiri, tanpa ragu tetap berdiri.
Sedikit cemas menunggu rindu berhasrat temu.
Terkaku tak ingin layu, bertopang harap yang tak tentu.
Berucap hati tak ragu, aku tak kan berlalu.

>)